Sunday, May 11, 2014

Melaksanakan Perintah Dan Meninggalkan Larangan, Mudah Mana...?

,
Istilah takwa seringkali diartikan dengan melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya.

Keduanya harus seiring sejalan, agar tiada "kepincangan"

A. Terima Dan Tinggalkan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya“ (QS. Al-Hasyr: 7)

B. Tunaikan Semampunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apa yang telah kularang kalian darinya, maka tinggalkanlah. Dan apa saja yang telah kuperintahkan dengannya, maka tunaikanlah semampu kalian...” (HR. al-Bukhari: 7288, Muslim: 1337)

Perintah dikaitkan dengan kemampuan
Tidak bisa shalat berdiri, boleh duduk atau berbaring, atau lainnya.
Tidak mampu berpuasa sebab sakit atau musafir, hamil atau menyusui bisa diganti berpuasa di lain hari atau membayar fidyah.

Adapun larangan tidak dikaitkan dengan kemampuan, karena pada hakikatnya "hanya" perlu tidak mengerjakan
Meninggalkan larangan tidak memerlukan upaya lebih daripada melaksanakan perintah.
Dilarang melihat yang bukan haknya, berpacaran, atau pun berzina, hanya perlu tidak melaksanakan...
Tidak boleh mencuri, hanya butuh berdiam diri tak melakukan...

Jadi...

Melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan, seharusnya mudah mana...?
Read more →

Jerat-jerat Setan dalam Menggoda Manusia

,
Firman اَللّهُ سبحانه وتعالى :
"Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka. (Shad: 82-83)

Ibnul Qayyim menyebutkan dlm kitab Al Bada'iul Fawaaid: "Sesungguhnya setan mengajak manusia kepada enam perkara, ia baru melangkah kepada perkara kedua bila perkara pertama tidak berhasil dilakukannya. Langkah-langkah setan dalam menggoda manusia:

1. Mengajaknya berbuat syirik dan kekufuran. Jika hal ini berhasil dilakukannya berarti setan telah menang dan tidak sibuk lagi dgnnya.

2. Jika tidak berhasil, setan akan mengajaknya berbuat bid'ah. Jika sudah terjerumus ke dalamnya maka setan akan membuat bid'ah itu indah dimatanya hingga ia rela dan setanpun membuatnya puas dengan bid'ah itu.

3. Jika tidak berhasil juga, setan akan menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa besar

4. Jika tidak berhasil, setan akan menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa kecil

5. Jika ternyata tidak berhasil juga setan akan menyibukkannya dengan perkara-perkara mubah hinggai ia lupa beribadah

6. Jika tidak mempan juga, setan akan membuainya dengan perkara-perkara kurang penting hingga ia abaikan perkara-perkara terpenting

7. Jika gagal juga maka setan akan melakukan tipu daya terakhir, yaitu mengerahkan bala tentaranya dari jenis manusia untuk menyerang orang-orang yang berpegang teguh dengan agamanya
Allah Ta'ala mengabarkan bahwa dikalangan manusia ada juga yang berperan sebagai setan, firman اَللّهُ سبحانه وتعالى :
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (Al-An'am: 112)

Oleh sebab itu banyak kita temui setan-setan jenis manusia ada yang menyeru kepada kekufuran, syirik, mengajak orang berbuat dosa baik dosa besar maupun dosa kecil, atau mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang melalaikan...

(Ustadz Abdussalam Busyro, Lc حفظه الله تعالى)
Read more →

Saturday, May 10, 2014

Bergaul dengan Orang IKHLAS dan Manfaatnya

,
Dikisahkan bahwa pada masa dahulu dijumpai tiga orang yang terperangkap dalam goa. Terbukalah pintu goa dengan sebab keikhlasan doa. Hingga ketiganya berdoa dan terbuka penutup goa tersebut dan terbebaslah semua, lantaran manfaat yang mereka gapai bersama, satu dengan lainya.

Dari sini kita mengetahui faidah dan manfaat dari bergaul bersama orang yang ikhlas, atas karunia Allah yang dilimpahkan kepada mereka.


Sebagaimana pula disebutkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

”Sesungguhnya Allah memiliki malaikat berjalan betebaran di muka bumi yang mengikuti majalis-majalis dzikir, jika menjumpai suatu majlis dzikir maka ia ikut duduk bersama mereka dengan membentangkan sayap hingga memenuhi langit dunia, jika selesai maka malaikat tersebut terbang ke atas langit hingga ditanya Allah Ta’ala -dan Dia lebih mengetahui dari mana mereka datang- maka malaikat menjawab, 
“Kita datang dari kumpulan hamba-Mu di muka bumi yang mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid, dan memohon kepada-Mu“. 

Dikatakan, ”Apa yang mereka mohon?”. 
“Mereka memohon surga-Mu,” 

“Apakah mereka pernah melihat surga?”. “Tidak wahai Robb“. 

“Bagaimana jika ia melihat sorga?” “Mereka akan memohon perlindungan.” 

“Perlindungan dari apa?”, 
“Dari neraka-Mu wahai Robb”,

 “Apakah mereka melihat neraka?”, 
“Tidak Ya Robb”, 

“Bagaimana jika mereka melihat neraka?”, 
“Mereka akan memohon ampunan kepada-Mu“. 

Maka Allah katakan, ”Aku telah mengampuni mereka dan Aku berikan apa yang mereka ingginkan serta Aku berikan perlindungan untuk mereka”. 

Ya Robb, diantara mereka terdapat seorang hamba yang banyak melakukan kesalahan, ia melewati majlis tersebut dan ikut duduk bersama mereka?” Maka Allah berkata, ”Aku telah berikan ampunan padanya, mereka adalah sekelompok yang tidak akan menyengsarakan rekanan duduknya”. 

(HR Muslim)

-Kitabul Ikhlas hal: 38-39 - 

(Ust. Rochmad supriyadi LC)
Read more →

Thursday, May 8, 2014

10 Cara mendapatkan Qanaah

,
Memang qana’ah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi siapa yang diberikan taufik dan petunjuk serta dijaga oleh Allah dari keburukan jiwa, kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadan memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta.

Banyak sekali hasil dan manfaat memiliki sifat qanaah ini. Nah untuk mendapatkannya perlu adanya beberapa kiat yang dengan izin Allah akan membawa kita padanya. Di antaranya yaitu:

1. Memperkuat Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala
Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah subhanahu wata’ala, karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Barangsiapa yang kaya hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun dia tidak mendapatkan makan di hari itu.
Sebaliknya siapa yang hatinya fakir maka meskipun dia memilki dunia seisinya kecuali hanya satu dirham saja, maka dia memandang bahwa kekayaannya masih kurang sedirham, dan dia masih terus merasa miskin sebelum mendapatkan dirham itu.

2. Yaqin bahwa Rizki Telah Tertulis
Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya, “Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Seorang hamba hanya diperintah kan untuk berusaha dan bekerja dengan keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala yang memberinya rizki dan bahwa rizkinya telah tertulis.

3. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur’an yang Agung
Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). ‘Amir bin Abdi Qais pernah berkata, “Empat ayat di dalam Kitabullah apabila aku membacanya di sore hari maka aku tidak peduli atas apa yang terjadi padaku di sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan berpagi-pagi, (yaitu):
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathiir:2)

“Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS.Yunus:107)
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud:6)
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. ath-Thalaq:7)

4. Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki
Di antara hikmah Allah menentukan perbedaan rizki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian, serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi kan pelayanan dan jasa.
Allah berfirman,
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentu kan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. az-Zukhruf:32)

5. Banyak Memohon Qana’ah kepada Allah
Rasulullah adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah agar diberikan qana’ah, beliau bedoa,
“Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi)
Dan karena saking qana’ahnya, beliau tidak meminta kepada Allah subhanahu wata’ala kecuali sekedar cukup untuk kehidu pan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau, “Ya Allah jadikan rizki keluarga Muhammad hanyalah kebutuhan pokok saja.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)

6. Menyadari bahwa Rizki Tidak Diukur dengan Kepandaian
Kita harus menyadari bahwa rizki seseorang itu tidak tergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktivitas, keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab rizki, namun bukan ukuran secara pasti.
Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.

7. Melihat ke Bawah dalam Hal Dunia
Dalam urusan dunia hendaklah kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)
Jika saat ini anda sedang sakit maka yakinlah bahwa selain anda masih ada lagi lebih parah sakitnya. Jika anda merasa fakir maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan seterusnya. Jika anda melihat ada orang lain yang mendapatkan harta dan kedudukannya lebih dari anda, padahal dia tidak lebih pintar dan tidak lebih berilmu dibanding anda, maka mengapa anda tidak ingat bahwa anda telah mendapatkan sesuatu yang tidak dia dapatkan?

8. Membaca Kehidupan Salaf
Maksudnya melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana’ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperolah harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih membutuhkan.

9. Menyadari Beratnya Tanggung Jawab Harta
Harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemilik nya jika dia tidak mendapatkan nya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula.
Ketika seorang hamba ditanya tantang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab dua kali, yakni dari mana memperoleh dan ke mana membelanjakannya. Hal ini menunjukkan beratnya hisab orang yang diberi amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih lama dibanding orang yang lebih sedikit hartanya.

10. Melihat Realita bahwa Orang Fakir dan Orang Kaya Tidak Jauh Berbeda
Karena seorang yang kaya tidak mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya dalam satu waktu sekaligus. Kita perhatikan orang yang paling kaya di dunia ini, dia tidak makan kecuali sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan mungkin lebih banyak yang dimakan orang fakir. Tidak mungkin dia makan lima puluh piring sekaligus, meskipun dia mampu untuk membeli dengan hartanya. Andaikan dia memiliki seratus potong baju maka dia hanya memakai sepotong saja, sama dengan yang dipakai orang fakir, dan harta selebihnya yang tidak dia manfaatkan maka itu relatif (nisbi).
Sungguh indah apa yang diucapkan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, “Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kami pun naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedang kita terbebas darinya.”

(Sumber: “Al-Qana’ah, mafhumuha, manafi’uha, ath-thariq ilaiha,” hal 24-30, Ibrahim bin Muhammad al-Haqiil)
Read more →

Menebar Dusta Meraih Bahagia

,
Akhi Ukhtii moga selalu dalam lindungan Allah

“Tinggalkanlah dusta, karena dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan kepada neraka”.

Kiranya seperti itulah makna salah satu pesan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun ternyata ada dusta yang boleh, bahkan itu adalah bumbu penyedap untuk kehidupan suami istri.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

لا يصلح الكذب إلا في ثلاث: يحدث الرجل امرأته ليرضيها والكذب في الحرب والكذب ليصلح بين الناس

”Tidak dibenarkan berdusta kecuali dalam tiga hal:”Seorang laki-laki yang berbicara kepada istrinya demi menyenangkan hatinya, dusta dalam peperangan dan dusta untuk memperbaiki hubungan manusia (yang sedang berseteru).”(HR. Tirmidzi no. 1939, dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2834)

Tapi perlu digaris bawahi, bahwa kebolehan ini bukan secara mutlak, yang diperbolehkan adalah dusta yang tujuannya memperbaiki hubungan dan menyenangkan hati, seperti seorang suami yang mengatakan kepada istrinya:

KAU ADALAH PEREMPUAN TERINDAH UNTUKKU

RONA WAJAHMU SELALU MEMBAYANGI JALAN-JALANKU

AKU TAK KUASA BILA TAK MELIHAT WAJAHMU

AKU AKAN SELALU ADA UNTUKMU, SAYANG!!!

MASAKANMU TIADA YANG MENANDINGINYA

Begitu pula sang istri kepada suaminya.

Inilah dusta yang seharusnya dipelajari oleh para pasutri, karena di dalamnya mengandung banyak hikmah, dan inilah gombal yang kadang kala sebagian suami sulit untuk mengungkapkannya, oleh karena itu harus ada latihan...

(Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah MA حفظه الله تعالى)
Read more →