Showing posts with label Tazkiyatun Nufus. Show all posts
Showing posts with label Tazkiyatun Nufus. Show all posts

Thursday, May 8, 2014

10 Cara mendapatkan Qanaah

,
Memang qana’ah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi siapa yang diberikan taufik dan petunjuk serta dijaga oleh Allah dari keburukan jiwa, kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadan memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta.

Banyak sekali hasil dan manfaat memiliki sifat qanaah ini. Nah untuk mendapatkannya perlu adanya beberapa kiat yang dengan izin Allah akan membawa kita padanya. Di antaranya yaitu:

1. Memperkuat Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala
Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah subhanahu wata’ala, karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Barangsiapa yang kaya hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun dia tidak mendapatkan makan di hari itu.
Sebaliknya siapa yang hatinya fakir maka meskipun dia memilki dunia seisinya kecuali hanya satu dirham saja, maka dia memandang bahwa kekayaannya masih kurang sedirham, dan dia masih terus merasa miskin sebelum mendapatkan dirham itu.

2. Yaqin bahwa Rizki Telah Tertulis
Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya, “Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Seorang hamba hanya diperintah kan untuk berusaha dan bekerja dengan keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala yang memberinya rizki dan bahwa rizkinya telah tertulis.

3. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur’an yang Agung
Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). ‘Amir bin Abdi Qais pernah berkata, “Empat ayat di dalam Kitabullah apabila aku membacanya di sore hari maka aku tidak peduli atas apa yang terjadi padaku di sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan berpagi-pagi, (yaitu):
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathiir:2)

“Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS.Yunus:107)
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud:6)
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. ath-Thalaq:7)

4. Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki
Di antara hikmah Allah menentukan perbedaan rizki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian, serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi kan pelayanan dan jasa.
Allah berfirman,
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentu kan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. az-Zukhruf:32)

5. Banyak Memohon Qana’ah kepada Allah
Rasulullah adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah agar diberikan qana’ah, beliau bedoa,
“Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi)
Dan karena saking qana’ahnya, beliau tidak meminta kepada Allah subhanahu wata’ala kecuali sekedar cukup untuk kehidu pan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau, “Ya Allah jadikan rizki keluarga Muhammad hanyalah kebutuhan pokok saja.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)

6. Menyadari bahwa Rizki Tidak Diukur dengan Kepandaian
Kita harus menyadari bahwa rizki seseorang itu tidak tergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktivitas, keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab rizki, namun bukan ukuran secara pasti.
Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.

7. Melihat ke Bawah dalam Hal Dunia
Dalam urusan dunia hendaklah kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)
Jika saat ini anda sedang sakit maka yakinlah bahwa selain anda masih ada lagi lebih parah sakitnya. Jika anda merasa fakir maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan seterusnya. Jika anda melihat ada orang lain yang mendapatkan harta dan kedudukannya lebih dari anda, padahal dia tidak lebih pintar dan tidak lebih berilmu dibanding anda, maka mengapa anda tidak ingat bahwa anda telah mendapatkan sesuatu yang tidak dia dapatkan?

8. Membaca Kehidupan Salaf
Maksudnya melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana’ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperolah harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih membutuhkan.

9. Menyadari Beratnya Tanggung Jawab Harta
Harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemilik nya jika dia tidak mendapatkan nya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula.
Ketika seorang hamba ditanya tantang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab dua kali, yakni dari mana memperoleh dan ke mana membelanjakannya. Hal ini menunjukkan beratnya hisab orang yang diberi amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih lama dibanding orang yang lebih sedikit hartanya.

10. Melihat Realita bahwa Orang Fakir dan Orang Kaya Tidak Jauh Berbeda
Karena seorang yang kaya tidak mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya dalam satu waktu sekaligus. Kita perhatikan orang yang paling kaya di dunia ini, dia tidak makan kecuali sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan mungkin lebih banyak yang dimakan orang fakir. Tidak mungkin dia makan lima puluh piring sekaligus, meskipun dia mampu untuk membeli dengan hartanya. Andaikan dia memiliki seratus potong baju maka dia hanya memakai sepotong saja, sama dengan yang dipakai orang fakir, dan harta selebihnya yang tidak dia manfaatkan maka itu relatif (nisbi).
Sungguh indah apa yang diucapkan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, “Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kami pun naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedang kita terbebas darinya.”

(Sumber: “Al-Qana’ah, mafhumuha, manafi’uha, ath-thariq ilaiha,” hal 24-30, Ibrahim bin Muhammad al-Haqiil)
Read more →

Musibah itu Membuatku Tersenyum

,
Ternyata di balik cobaan, ujian, musibah yang didapatkan oleh seorang hamba terdapat keutamaan yang luar biasa. Oleh karena itu, sebenarnya, orang yang sedang diuji oleh Allah Ta’ala dengan berbagai macam cobaan, seharusnya tersenyum, gembira dan bersyukur. Mengapa demikian? Karena ujian dari Allah Ta’ala itu indah dan nikmat. 
Coba kita perhatikan beberapa hal-hal berikut:

Pertama, Shalawat Allah Ta’ala, rahmat dan petunjuk-Nya bagi yang sabar ketika mendapatkan ujian.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ  الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ  أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-BAqarah: 155-158)

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa orang yang sabar ketika mendapatkan ujian maka dia akan mendapatkan tiga keutamaan sekaligus, shalawat Allah Ta’ala, rahmat dan petunjuk-Nya. Dan perlu diperhatikan, bahwa Allah Ta’ala tidak pernah mengumpulkan tiga keutamaan sekaligus dalam satu ayat, kecuali di dalam ayat ini yaitu keutamaan bagi orang yang bersabar ketika mendapatkan musibah. Makna shalawat Allah Ta’ala kepada orang yang bersabar ketika mendapatkan musibah adalah: Allah Ta’ala memuji orang tersebut di hadapan para malaikat-Nya yang suci, hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Abu Al ‘Aliyah Ar rayyahi rahimahullah. (Lihat Syarah Al Mumti’, karya Ibnu Utsaimin 3/163-164).

Kedua, sebesar ujian sebesar itu pula pahala yang disediakan Allah Ta’ala.

Ketiga, Orang yang diuji Allah adalah bukti cinta-Nya kepada orang tersebut.

عن أنس رضي الله عنه, عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ ».

Artinya: “Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan jika Allah mencintai suatu kaum Dia akan menguji mereka, siapa yang ridha maka baginya keridhaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)."(Hadits riwayat Tirmidzi (no. 2576) dan dishahihkan oleh Al Albani)

Kalau begini, kenapa harus terus masuk dalam kesedihan, sebesar ujian sebesar itu pula pahala yang disediakan Allah Ta’ala. Maka cobalah untuk tersenyum ketika mendapatkan ujian, cobaan atau musibah.

Dan betapa, seorang hamba sangat membutuhkan ampunan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, karena seorang manusia adalah yang sudah ditegaskan sering melakukan kesalahan dan dosa.

عنْ أَنَسٍ  رضي الله عنه أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ»

Artinya: “Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shalallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap anak keturunan Adam adalah seorang yang selalu melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang selalu melakukan kesalahan adalah orang-orang yang selalu bertaubat.” ((Lihat Syarah Al Mumti’, karya Ibnu Utsaimin 3/163-164).

Keempat, Musibah menghapuskan dosa dan kesalahan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِى نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ ».
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ujian selalu bersama dengan orang beriman lelaki dan perempuan, baik di dalam diri, anak dan hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai satu kesalahanpun.” (Hadits riwayat Tirmidzi (no. 2687) dan dishahihkan oleh Al Albani)

Kelima, Seorang yang mendapatkan cobaan berarti diinginkan kebaikan oleh Allah Ta’ala

عن أَبَي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - «مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ»

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang diinginkan Allah kebaikan maka Allah akan mengujinya.”
Demikianlah sebagian keutamaan yang disediakan bagi orang yang dirundung musibah, cobaan dan ujian. Semoga Anda yang lagi mendapat musibah bisa tersenyum setelah membacanya. Allahumma amin.


(Ustadz Ahmad Zainuddin, Dammam KSA)
Read more →

Bisa Istiqamah dalam Bekerja tetapi koq tidak Istiqamah dalam Ibadah?

,
Saudaraku seiman…

Sering melihat dan bertanya kepada sebagian orang tentang pekerjaan yang mereka kerjakan semenjak puluhan tahun, ada yang menjual bawang semenjak 20 tahun yang lalu, ada yang jualan bakso semenjak 35 tahun yang lalu, ada yang menjadi pengusaha semenjak 50 tahun lalu!
Masya Allah...koq bisa...?

Tetapi kenapa ibadah terkadang sulit untuk terus menerus dilakukan bahkan ironisnya kadang ibadah tersebut naik sangat drastis dan turunnya sangat drastis, bahkan benar-benar terputus ibadahnya. 

Kenapa demikian...?

Salah satu jawabannya adalah : Bekerja mampu Istiqomah karena di dalamnya seseorang tidak memperhatikan apakah kalau ia bekerja dilihat oleh orang lain atau tidak dilihat. Dan juga, bekerja mampu Istiqomah karena di dalamnya seseorang tidak mengharapkan apakah kalau ia bekerja akan diberi hadiah atau tidak oleh orang lain..

Sedangkan ibadah, mengapa terkadang terputus-putus bahkan benar-benar terputus? Karena terkadang di dalam ibadah tersebut seseorang memperhatikan apakah ibadahnya disaksikan oleh orang lain atau tidak? Kalau disaksikan maka ia akan terus beribadah dan kalau tidak dilihat ia tidak akan meneruskan ibadahnya..
Dan juga..seseorang beribadah terkadang terputus-putus bahkan benar-benar terputus karena ketika beribadah menginginkan hadiah dan pemberian dari orang lain. Kalau diberi ia lanjutkan ibadahnya dan jika tidak diberi maka ia berhenti dari ibadahnya.

Dan dua hal ini:
1. Selalu ingin disaksikan dan dipuji oleh manusia, dan
2. Ingin selalu mendapatkan pemberian dan hadiah dari manusia
adalah dua hal yang merupakan musuh IKHLASH yang mengakibatkan akhirnya seseorang sulit untuk Istqomah dalam ibadah, karena kiat yang paling jitu agar Istiqomah adalah IKHLASH (murni hanya karena Allah ta'ala semata, tidak menginginkan persaksian dan pujian apapun kecuali dari Allah dan tidak mengingingkan hadiah atau pemberian apapuan kecuali dari Allah). Dengan inilah ibadah dapat Istiqomah.
Semoga mudah untuk dipahami dan diamalkan...
Tentang  dua musuh IKHLASH dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah Rahimahullah, berliau berkata :

 لا يجتمع الإخلاص في القلب ومحبة المدح والثناء والطمع فيما عند الناس إلاّ كما يجتمع الماء والنار والضب والحوت
"TIDAK TERKUMPUL IKHLAS DI DALAM HATI DAN KECINTAAN TERHADAP PUJIAN DAN SANJUNGAN SERTA RAKUS TERHADAP APA YANG ADA DI TANGAN MANUSIA KECUALI SEBAGAIMANA BERKUMPULNYA AIR DENGAN API ATAU HEWAN ADH DHABB DENGAN IKAN." (lihat di dalam kitab Al Fawaid, hal. 148).
Tentang IKHLASH adalah kiat jitu agar selalu Istiqomah dijelaskan oleh Abul 'Aliyah:

وقال أبو العالية: { ثُمَّ اسْتَقَامُوا } أخلصوا له العمل والدين. 
Artinya: “Kemudian mereka istiqamah, yaitu mengikhlaskan amal dan agama hanya kepada-Nya”. lihat tafsir Ibnu Katsir pada surat Fushshilat ayat 30.

(Ustadz Ahmad Zainuddin)
Kamis, 8 Rabi'ul Awwal 1434H, Lombok Barat Mataram
Read more →

Wednesday, May 7, 2014

Karena Doa, Hutang Menjadi Kekayaan

,
Dalam Shahihnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Zubeir ra, katanya, “Di hari perang Jamal, Zubeir sempat memanggilku. Setelah berdiri di sampingnya, ia berkata kepadaku, “Hai puteraku, yang akan terbunuh hari ini hanyalah orang zhalim atau yang terzhalimi. Dan kurasa aku akan terbunuh hari ini sebagai pihak yang terzhalimi. Akan tetapi beban fikiran terberatku di dunia ini ialah hutangku. Apakah menurutmu hutang kita akan menyisakan harta kita walau sedikit?”, Tanya Zubeir.


“Wahai puteraku, juallah aset yang kita miliki untuk menutup hutang-hutangku” kata Zubeir. Lalu ia berwasiat agar sepersembilan hartanya yang tersisa diperuntukkan bagi anak-anak Abdullah, puteranya. Dan ketika itu, ada sebagian putera Abdullah yang umurnya setara dengan putera Zubeir, yaitu Khubaib dan Abbad. Sedangkan Zubeir sendiri saat itu meninggalkan sembilan orang putera dan sembilan orang puteri, tutur Abdullah.
Zubeir lantas berpesan kepadaku, “Hai puteraku, jika engkau tak sanggup melakukan sesuatu demi melunasi hutang ini; maka minta tolonglah kepada tuanku”. Kata Zubeir. Demi Allah, aku tidak faham apa maksudnya, maka tanyaku, “Wahai Ayah, siapakah tuanmu itu?”, “Allah” jawab Zubeir.
Sungguh demi Allah, tiap kali aku terhimpit musibah dalam melunasi hutang tersebut, aku selalu berkata, “Wahai tuannya Zubeir, lunasilah hutang-hutangnya”… dan Allah pun melunasinya, kata Abdullah.
Tak lama berselang, Zubeir ra pun terbunuh. Ia tak meninggalkan sekeping dinar pun maupun dirham. Peninggalannya hanyalah dua petak tanah, yang salah satunya berada di Ghabah (Madinah), lalu sebelas unit rumah di Madinah, dua unit rumah di Basrah, satu unit di Kufah, dan satu lagi di Mesir. Sedangkan hutang-hutang tersebut timbul karena Zubeir sering dititipi uang oleh orang-orang. Maka kata Zubeir, “Anggap saja ini sebagai hutang, karena aku takut uang ini hilang”. Sedangkan Zubeir sendiri tidak pernah menjabat sebagai gubernur maupun pengumpul zakat atau yang lainnya. Ia hanya mendapat bagian dari perangnya bersama Rasulullah, Abu Bakar, Umar, atau Utsman radhiyallaahu ‘anhum.
Maka kuhitung total hutang yang ditanggungnya, dan jumlahnya mencapai 2,2 juta dirham! Hakiem bin Hizam pernah menemui Abdullah bin Zubeir dan bertanya, “Wahai putera saudaraku, berapa hutang yang ditanggung saudaraku?”. Maka Ibnu Zubeir merahasiakannya, dan hanya mengatakan “seratus ribu”. Hakiem pun berkomentar, “Demi Allah, harta kalian takkan cukup untuk melunasinya menurutku”. “Lantas bagaimana menurutmu jika hutang tadi berjumlah 2,2 juta?!” Tanya Ibnu Zubeir. “Kalian takkan sanggup melunasinya. Dan jika kalian memang tidak sanggup, maka minta tolonglah kepadaku” jawab Hakiem.
Abdullah lantas mengumumkan, “Siapa yang pernah menghutangi Zubeir, maka silakan menemui kami di Ghabah”. Maka datanglah Abdullah bin Ja’far yang dahulu pernah menghutangi Zubeir sebesar 400 ribu dirham. Ibnu Ja’far berkata kepada Ibnu Zubeir, “Kalau kau setuju, hutang itu untuk kalian saja”. “Tidak”, jawab Ibnu Zubeir. “Kalau begitu, biarlah ia hutang yang paling akhir dilunasi” kata Ibnu Ja’far. “Jangan begitu”, jawab Ibnu Zubeir. “Kalau begitu, berikan aku sekapling tanah dari yang kalian miliki” pinta Ibnu Ja’far. “Baiklah. Kau boleh mengambil kapling dari sini hingga sana”, kata Ibnu Zubeir.
Ibnu Ja’far lantas menjual bagiannya tadi dan mendapat pelunasan atas hutangnya. Sedangkan tanah tersebut masih tersisa empat setengah kapling. Ibnu Zubeir lantas menghadap Mu’awiyah yang kala itu sedang bermajelis dengan ‘Amru bin Utsman, Mundzir bin Zubeir, dan Ibnu Zam’ah. Mu’awiyah lantas bertanya, “Berapa harga yang kau berikan untuk tanah Ghabah?”. “Seratus ribu per kapling” jawab Ibnu Zubeir. “Berapa kapling yang tersisa?” Tanya Mu’awiyah. “Empat setengah kapling” jawab Ibnu Zubeir.
Maka ‘Amru bin Utsman berkata, “Aku membeli satu kapling seharga seratus ribu”, sedangkan Mundzir bin Zubeir dan Ibnu Zam’ah juga mengatakan yang sama. Lalu Mu’awiyah bertanya, “Berapa kapling yang tersisa?”. “Satu setengah kapling” jawab Ibnu Zubeir. “Kubeli seharga 150 ribu”, kata Mu’awiyah. Sebelumnya, Abdullah bin Ja’far menjual kaplingnya kepada Mu’awiyah seharga 600 ribu. Dan setelah Ibnu Zubeir selesai melunasi hutang ayahnya. Datanglah anak-anak Zubeir kepadanya untuk minta jatah warisan. Tapi kata Ibnu Zubeir, “Tidak, demi Allah. Aku takkan membaginya kepada kalian sampai kuumumkan selama 4 tahun di musim haji, bahwa siapa saja yang pernah menghutangi Zubeir hendaklah mendatangi kami agar kami lunasi”. Maka Ibnu Zubeir pun mengumumkannya selama 4 tahun.
Setelah berlalu empat tahun, barulah Ibnu Zubeir membagi sisa warisannya. Ketika itu, Zubeir meninggalkan 4 orang istri, dan setelah dikurangi sepertiganya, ternyata masing-masing istrinya mendapatkan 1,2 juta. Dan setelah ditotal, ternyata nilai total harta peninggalannya mencapai 50,2 juta ![1]
Sungguh luar biasa memang pengaruh doa. Tak hanya menolak musibah dan meringankan bencana, namun doa membalik itu semua menjadi karunia yang tak terhingga. Walau secara matematis jumlah hartanya takkan cukup untuk melunasi 10% dari hutangnya, akan tetapi lewat doa, itu semua teratasi. Kalaulah Zubeir mengajarkan doa tersebut kepada puteranya, maka doa apa kiranya yang harus kita baca agar terbebas dari lilitan hutang?
Dalam Shahih Muslim disebutkan, bahwa Rasulullah mengajarkan agar kita membaca doa berikut tiap hendak tidur,
اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ مُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ أَنْتَ الْأَوَّلُ لَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ لَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ لَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ لَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِ
Wahai Allah penguasa langit, ‘arasy yang agung, dan penguasa segalanya. Wahai yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Wahai yang membelah biji dan benih (menjadi tanaman). Tiada ilah selain Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari setiap kejahatan manusia yang jahat, sebab Engkaulah yang menguasai ubun-ubunnya. Engkaulah yang pertama, yang tiada apa pun sebelumMu; dan Engkaulah yang terakhir, yang tiada apa pun setelahMu. Engkaulah yang dhahir, yang tiada apa pun di atasMu; dan Engkaulah yang bathin, yang tiada apapun yang menghalangiMu. Lunasilah hutang kami dan entaskan kami dari kefakiran.[2]


[1] Shahih Bukhari no 3129.
[2]  Shahih Muslim, no 2713.


Sumber : www.basweidan.com
Artikel : KajianSunnah.Net
Read more →

Monday, May 5, 2014

Hati-Hati Su’ul Khatimah

,
Wahai engkau yang berbuat dosa, apa yang engkau ketahui  tentang perhentian?!
Wahai engkau yang berbuat dosa, tidakkah pernah engkau mendengar pembicaraan yang meneror hati orang-orang saleh!
Rasulullah salallahu alaihi wasalam bersabda,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إن الرجل ليعمل الزمن الطويل بعمل أهل الجنة، ثم يختم له عمله بعمل أهل النار! وإن الرجل ليعمل الزمن الطويل بعمل أهل النار، ثم يختم له عمله بعمل أهل الجنة»  [رواه مسلم]
“Ada orang yang sungguh-sungguh beramal dalam waktu yang lama dengan amalan ahli surga, kemudian menutup amalnya dengan amalan ahli neraka. Dan ada orang yang sungguh-sungguh melakukan amal ahli neraka dalam waktu yang lama, kemudian menutupnya dengan amalan ahli surga.” [HR.Muslim]
Dan sabdanya salallahu alaihi wasalam,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «.. وإنما الأعمال بالخواتيم» [رواه البخاري]
“Sesunggunya amalan dinilai dengan penutupannya.” [HR.al-Bukhari]
Ibnu Rajab berkata, “Singkatnya, penutup amal adalah warisan dari amalan masa lalu dan semua itu telah ada pada catatan takdir terdahulu. Dari inilah bertambah ketakutan salaf akan su’ul khatimah. Diantara mereka ada yang cemas menyebut-nyebut masa lalunya.”
Hatim al-Asham berkata, “Siapa yang hatinya kosong dari mengingat empat saat yang membahayakan, maka dia tertipu dan tidak terhindar dari kesengsaraan. Pertama: bahaya hari pembalasan amal. Ketika Allah berkata, ‘Mereka di surga dan aku tidak perduli, sedang yang lain di neraka dan aku tidak perduli.’Dia tidak tahu berada pada kelompok yang mana. Kedua: ketika diciptakan dalam alam tiga kegelapan[1]. Ketika dipanggil oleh Malaikat sebagai orang yang sengsara atau bahagia, dia tidak tahu termasuk yang sengsara atau bahagia. Ketiga: saat disingkap catatan amal. Sedang dia tidak tahu apakah termasuk yang mendapat keridaan Allah atau kemurkaanNya. Keempat: hari ketika manusia dibangkitkan. Dia tidak tahu jalan mana dari jalan surga atau neraka yang akan dilalui.”
Sahl Ibn Abdullah berkata, “Ketakutan para Siddîkin (ulama yang beramal) akan su’ul khatimah pada tiap bahaya dosa dan gerik mereka. Merekalah yang di sifati Allah dalam firmanNya,
قال الله تعالى: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ ﴾ [المؤمنون: 60]
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut,…” (QS.al-Mu’minun:60)
‘Atha al-Khaffâf berkata, “Tidaklah aku berjumpa dengan ats-Tsauri melainkan ia sedang menangis. Aku tanya, ‘Ada apa denganmu?” Dia menjawab, “Aku takut tercatat sebagai orang yang celaka dalam catatan takdir.”
Wahai engkau yang berbuat dosa, itulah su’ul khatimah. Sudahkah engkau lihat bagaimana ‘ârifun (orang-orang yang tahu) memperhitungkannya… dimana posisimu dari mereka?! Apakah engkau melihat dirimu termasuk yang merasa malu dan takut atau yang merasa aman-aman saja?! Betapa meruginya engkau jika termasuk kelompok yang kedua. Bagaimana bisa seorang merasa aman meniti jalan yang mengantarnya kepada su’ul khatimah (pengakhiran yang buruk).
Wahai engkau yang berbuat dosa, waspadalah…berhati-hatilah!
Ibnul Mubarak berkata, “Sesungguhnya orang yang memiliki perseptif tidak akan merasa aman dari empat perkara: dosa masa lalu, yang tidak dia tahu apa yang Tuhan perbuat dengannya, umur yang tersisa, yang tidak dia tahu musibah apa saja yang akan dialami, kelebihan yang Allah beri, mungkin saja itu istidroj[2]dan kesesatan yang terdekorasi sehingga nampak seperti petunjuk. Penyimpangan hati saat demi saat lebih cepat dari kedipan mata, yang bisa jadi mencabut agamanya tapa disadari.
Wahai engkau yang berbuat dosa, engkau merasa akan selamat padahal menempuh jalan maksiat dan bergelimang perbuatan yang dimurkai?!
Waspada dicabut nyawa… tidak tersadar kecuali setelah engkau di hadapan malaikat yang kasar lagi bengis!
Al-Hasan al-Bashri menasehati, “Bergegaslah, bergegaslah! Sesungguhnya ia hanyalah nafas, bila ditahan terputuslah seluruh amal kalian yang dijadikan pendekat kepada Allah –azza wajalla-. Terahmati Allah orang yang melihat dirinya dan menangis atas sejumlah dosanya. Kemudian beliau membaca firman Allah,
قال الله تعالى: ﴿ إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا ﴾[مريم: 84]
“Sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.” (QS.Maryam:84)
Jika mau –wahai engkau yang patut diiba-, aku sampaikan kepadamu beberapa kisah orang-orang saleh, yang menggabungkan antara ketaatan dan ketakutan su’ul khatimah… semoga itu dapat mengembalikan hatimu yang lari dari ketaatan dan menyadarkanmu sebelum hilang kesempatan…
Dari Ali -radiallahu ‘anhu-, dia berkata, “Aku mendatangi Umar Ibn al-Khatthâb yang sakit pasca ditikam Abu Lu’luah. Dia menangis. Aku Tanya, ‘Apa yang membuatmu menangis, wahai Amirul Mukminin?’ Dia menjawab, ‘Berita langit membuatku menangis. Kemana aku akan dibawa, ke surga atau neraka?’ ‘Bergembiralah dengan surga! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah -salallahu alaihi wasalam- bersabda yang tidak aku hitung berapa kali, “Dua orang sayid ahli surga adalah Abu Bakar dan Umar.’ Umar berkata, “Apakah engkau menjadi saksi wahai Ali bahwa aku di surga?! Aku katakan, ‘Ya. Dan engkau wahai Hasan[3], menjadi saksi kepada Rasulullah bahwa Umar termasuk ahli surga.”
Dari Muhamad Ibn Qois, bahwa seorang lelaki dari penduduk Madinah tengah sekarat, panik. Diapun ditanya, “Engkau panik?!” Dia menjawab, “Bagaimana tidak. Demi Allah, seandainya utusan gubernur Madinah mendatangiku, aku akan panik karenanya, lalu bagaimana lagi dengan (malaikat maut) utusan Tuhan semesta alam?!
Sebagian lagi menangis menjelang kematian mereka. Ketika ditanya akan hal itu dia menjawab, “Aku mendengar Allah mengatakan kepada suatu kaum:
قال الله تعالى: ﴿ وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ ﴾ [الزمر: 47]
“…dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. “ [4] Dan aku menunggu sebagaimana yang kalian lihat. Demi Allah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku!”
Sebagian lagi mengatakan, “Seandainya sahadat (persaksian memeluk Islam) berada di pintu rumah dan mati dalam Islam di pintu kamar, niscaya aku memilih mati dalam Islam, karena tidak tahu godaan apa yang terjadi pada hatiku sepanjang pintu kamar ke pintu rumah.”
Sofyan ats-Tsauri menangis dan berkata, “Aku takut imanku dicabut saat kematian.”
Dahulu Malik Ibn Dînar melakukan shalat sepanjang malam sambil menggenggam janggutnya, seraya berkata, “Wahai tuhanku, telah aku ketahui bagaimana penghuni surga dan penghuni neraka. Di manakah dari dua tempat itu tempat tinggal Malik?”
Wahai engkau yang berbuat dosa, sadarkan dirimu…! Jika sedemikian itu keadaan orang-orang saleh, dimana satu dari mereka ada al-Fâruk Umar Ibn al-Khathab -radiallahu ‘anhu-, sahabat Rasulullah, yang telah diberitakan masuk surga, yang setan menjauh dari bayangannya… apa bukan semestinya engkau –wahai pendosa- lebih dalam kepanikanmu dan lebih deras cucuran air matamu…?!
(syair):    Engkau bersangka baik dengan hari-hari yang dihisab
Tidak takut takdir buruk datang menjemput
Engkau selamat bermalam-malam hingga terhanyut
Di keheningan malam-malam kau cipta noda
Wahai pendosa, waspada hati mu tertelungkup!

Dari Anas -radiallahu ‘anhu-, dia berkata, bahwa Rasulullah banyak mengatakan,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك » فقلت: يا نبي الله آمنا بك، وبما جئت به، فهل تخاف علينا ؟!ّ  قال: «نعم ، إن القلوب بين أصبعين من أصابع الله يقلبها كيف يشاء»! [رواه الترمذي/ صحيح الترمذي للألباني: 2140]
“Wahai Tuhan yang membolak balik hati, tetapkan hatiku dalam agamaMu.”
Aku bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, kami beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa. Apakah engkau masih khawatir terhadap kami?!’
Nabi menjawab, “Ya. Sesungguhnya hati berada di antara dua jemari Allah. Dia membolak baliknya sekehendakNya.” [HR.at-Turmudzi. Lihat Shahih at-Turmudzi oleh al-Albani no.2140]
Wahai engkau yang berbuat dosa, berapa banyak hati yang Allah  kunci mati sehingga tidak merasakan apapun, hingga munkar baginya makruf dan makruf kemungkaran…! Dia dalam keadaan terperosok dan buta…! Dalam keadaan sedemikian itu maut mendatanginya… jadilah dia su’ul khatimah.
Wahai engkau yang berbuat dosa, dosa termasuk sebab su’ul khatimah!
Wahai engkau yang berbuat dosa, dosa adalah jalan menuju neraka sebagaimana ketaatan jalan menuju surga…
Abu Muhamad Abdulhaq berkata, “Ketahuilah, bahwa su’ul khatimah –semoga Allah melindungi kita daripadanya-, tidak terjadi pada mereka yang lahiriahnya istikamah dan batinya saleh. Tidak pernah terdengar yang seperti itu dan diketahui, Alhamdulillah. Namun terjadi pada siapa yang memiliki kerusakan akal dan berkubang dalam dosa besar. Sehingga setan menyambut dan memanfaatkan keadaannya pada kondisi itu. Semoga Allah melindungi, semoga Allah melindung. Atau pada mulanya istikamah kemudian berubah keadaannya dan keluar dari kebiasaan baik dan menjadi jalan hidupnya, sehingga hal itu menjadi sebab su’ul khatimah dan buruk pengakhirannya.
Dari Abdul Aziz Ibn Abi Ruwad, dia berkata, “Aku menghadiri seorang yang dalam keadaan sekarat. Aku katakan kepadanya, “Ucapkanlah la ilaha illallah!’ Dia pun mengatakannya. Di saat saat terakhir, aku katakan kepadanya, ‘Ucapkan la ilaha illallah!’ Dia berkata, ‘Berapa kali engkau katakan?! Sesungguhnya aku ingkar dengan apa yang engkau katakan.’ Dia pun mati dalam keadaan itu. Aku tanya istrinya perihal orang itu. Istrinya menjawab, ‘Dia adalah pecandu minuman keras.’ Abdul Aziz berkata, ‘Takutlah pada dosa, sesungguhnya ialah yang membinasakannya.’”

Wahai engkau yang berbuat dosa, hati-hati dari berketerusan dalam dosa!
Berketerusan merupakan pintu menuju perkara besar… sudah berapa banyak yang dihantarnya kepada kebinasaan… sudah berapa banyak pelaku dosa yang diperosokkannya?! Sesungguhnya mencandu dosa jalan menjadi kebiasaan, membuat jiwa susah meninggalkannya… jadi sengaja lalai dan panjang angan-angan… hingga mati mengejutkannya dalam keadaan tidak istikamah.
(syair):
Wahai pemabuk, apa merasa aman dengan kebodohan
Saat engkau lupa diri, kematian mengejutkanmu
Berkorban jadi pelajaran manusia
Sedang engkau berjumpa Tuhan sebagai seburuk makhluk melata

Ibnu Rajab berkata, “Ketahuilah, bahwa semasa manusia berharap hidup, dia tak akan memutus angan-angannya terhadap dunia. Dan terkadang tidak mengijinkan dirinya berpisah dengan kelezatan, syahwat kemaksiatan dan yang serupa. Setan menjanjikannya dengan taubat di akhir umurnya. Jika telah yakin tiba saat mati dan putus harapan hidup, baru tersadar dari mabuknya terhadap dunia. Saat itulah sesal atas kelalaian, penyesalan yang hampir membuat membunuh dirinya dan meminta kembali ke dunia untuk bertaubat dan beramal saleh. Sedikitpun itu tidak akan terkabul. Sakratul maut dan sesal kelalaian berkumpul pada dirinya. Padahal telah Allah peringatkan hamba-Nya dalam kitab-Nya akan hal itu agar bersiap sebelum datangnya kematian dengan taubat dan amal saleh. Allah berfirman,
قال الله تعالى: ﴿ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ * وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ * أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ * أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ * أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ﴾ [الزمر: 54-58]
“(45) Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-mu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (55) Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. (56) Supaya jangan ada orang yang mengatakan, ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ).’ (57) Atau supaya jangan ada yang berkata, ‘Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.’(58) atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab, ‘Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik’.”  (QS.az-Zumar:54-58)
Waspadalah -wahai engkau yang patut diiba- dikejutkan kematian sedang pintu taubat telah ditutup untukmu… janganlah sampai berjumpa Allah dengan memikul dosa-dosamu… betapa dahsyatnya hari itu bagimu !
Ibnu Rajab berkata mengenai firman Allah -ta’ala-:
قال الله تعالى: ﴿ وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ ﴾  [سبأ: 54]
“Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini…”[5] ‘Sekelompok salaf menafsirkan, termasuk Umar Ibn Abdul Aziz -radiallahu ‘anhu-, bahwa : mereka minta bertaubat ketika telah dipisahkan antara mereka dan syahwatnya.”
Al-Hasan al-Bashri berkata, “Takutlah engkau wahai anak Adam, jangan sampai tergabung padamu dua perkara: sakratulmaut dan penyesalan atas yang terlewat.”
Ibnu as-Sammâk berkata, “Waspadalah terhadap sakratulmaut dan penyesalan. Kematian mencengankanmu. Tidak dapat tergambarkan kadar yang dialami dan dilihat.”
Al-Fudhail Ibn Iyadh berkata, “Allah –azzawajalla- berfirman, “Wahai anak Adam, jika engkau terombang-ambing dalam nikmatKu dan juga memaksiatiKu, waspadalah! jangan sampai aku binasakan sedang di antara kemaksiatan.”
Wahai engkau yang berbuat dosa, benahilah keadaanmu… segera bertobat yang tulus… sesungguhnya siang dan malam terus menggulung umurmu tanpa engkau sadari. Orang berakal adalah yang bersiap menemui Tuhan-nya yang Maha Kuasa… dan berlindung dari su’ul khatimah
Ibnu Rajab berkata, “Sebagian Salaf berkata, ‘Hidup kalian menjadi harapan banyak orang. Yakni mereka yang sudah mati. Berharap bisa hidup walau sesaat agar dapat bertaubat dan berbuat taat. Namun tidak ada jalan bagi mereka untuk itu!”
Wahai yang terpedaya dosa, berikut pergulatan para pendosa!
Wahai engkau yang berbuat dosa, su’ul khatimah adalah perhentian yang jelek dan tempat tinggal terburuk…
Berikut adalah sisi dari kisah kaum yang berketerusan dalam dosa hingga ditohok maut dan mereka dalam kelalaian, jadilah berakhir dengan su’ul khatimah
Muhamad Ibn Uyainah al-Fazâri berkata, “Aku mendengar Abu Ishaq al-Fazâri berkata kepada Abdullah Ibn al-Mubârak, ‘Wahai Abu Abdurrahman, ada seorang dari sahabat kita yang mengumpulkan ilmu lebih banyak dari yang engkau dan aku kumpulkan. Saat sakratulmautnya aku hadir. Ketika dikatakan kepadanya, ‘Ucapakan lâ ilaha illallah!’ dia menjawab aku tidak bisa mengucapkannya. Kala dia bicara aku membantah. Dia katakan itu dua kali. Dia tetap seperti itu sampai meninggal. Aku tanyakan perihalnya.’ Dijawab, ‘Dia durhaka kepada kedua orang tuanya’. Sehingga aku menduga, dia tidak dapat mengucapkan kalimat ikhlas (la ilaha illallah) kerena kedurhakaannya kepada kedua orang tuanya.”
Bakr Ibn Abdullah al-Muzini berkata, “Seorang lelaki bani Israil mengumpulkan harta. Menjelang kematiannya, dia berkata kepada anak laki-lakinya, ‘Perlihatkan hartaku!’ Diperlihatkanlah sebagian besar kuda, onta, budak dan harta lainnya. Ketika melihat semua itu, dia menangis menyesal. Saat melihat malaikat maut, semakin menjadi tangisannya. Malaikat bertanya kepadanya, ‘Apa yang membuatmu menangis? Demi Tuhan yang telah mengasumsikanmu, aku tidak akan keluar dari rumahmu sampai memisahkan roh dari badanmu!’ Lelaki itu memohon, ‘Beri kesempatan hingga aku selesai membagikannya.’ Malaikat menjawab, ‘Mustahil! Sudah habis kesempatanmu, mengapa tidak engkau lakukan itu sebelum datang ajalmu?!’ Rohnya pun dicabut.
Ar-Rabi’ Ibn Birrah berkata, “Aku melihat lelaki di Syam yang dibimbing mengucap la ilaha illallah saat sakratulmaut hanya mengatakan, “Minum… tuangkan untuknya…!”
Hâsyim mengira dari Abu Hafs, dia berkata, “Aku mengunjungi seorang lelaki di al-Mashishah yang sedang sakratulmaut. Aku tuntun dia, ‘Ucapkanlah, la ilaha illallah!’ Dia berkata, ‘Mustahil, terhalangi antara aku dengannya.’”
Ibnu Rajab berkata, “Sebagian yang sakratulmaut saat ajal mendekati, menampar wajahnya dan berujar,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: [يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ]
“Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah,” [6]
Sebagian lagi mengatakan, ‘Dunia telah melalaikan hingga habis hari-hariku.’ Sebagian lagi berkata, ‘Jangan sampai engkau dilenakan oleh kehidupan dunia sebagaimana ia melenakanku.’”
Orang-orang dahulu ada yang mabuk semalaman. Istrinya mencelanya karena meninggalkan shalat. (Tidak terima) dia bersumpah akan mentalak tiga istrinya, dengan tidak shalat selama tiga hari. Ngotot mencerai istrinya, diapun melakoni tidak shalat tiga hari, namun mati setelah itu. Dalam keadaan mencandu minuman keras dan meninggalkan shalat.
Diantara pecandu khamr ada yang dipanggil Abu Amr. Suatu malam dia tertidur dalam keadaan mabuk. Dalam tidurnya dia mendengar seseorang melantunkan (syair) :
Benar-benar engkau Abu Amr
Bersemedi di atas khamr
Minum minuman keras
Ada banjir menerpamu tanpa engkau tahu
Dia pun terbangun gelisah dan mengabarkan mimpinya kepada orang yang ada bersamanya, namun mabuk membuatnya tertidur kembali. Saat subuh di mati seketika!
Dikisahkan mengenai para makelar. Ketika sakratulmaut, dituntun mengucapkan la ilaha illallah. Namun dia menjawab, ‘Tiga setengah… empat setengah….’
Yang lain dituntun, ‘Ucapkan lâ ilaha illallah!” Malah berucap, ‘Rumah fulan, perbaiki demikian… kebun fulan, bikin demikian… !”
Wahai engkau yang berbuat dosa, hisab dirimu… tuluslah dalam menghisab dirimu… dan segera bertaubat sebelum hilang kesempatan… ingat mati… ingat bahwa maksiat dan dosa merupakan jalan menuju su’ul khatimah
Dengarkan wahai engkau yang patut dikasihani, demi memperbaiki batin dan lahiriahmu…! sesungguhnya kematian akan segera datang… siapa yang takut, akan bersungguh-sungguh dan menyelamatkan diri… larilah dari dosa kepada pengampun dosa… mulailah hidup baru; diawali dari tobat dan ditutup dengan amal saleh… semoga engkau termasuk orang-orang yang lolos…  selamat dari su’ul khatimah
Segala puji bagi Allah senantiasa dan selama-lamanya… shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi, keluarga dan para sahabatnya…
Azhari Ahmad Mahmud

[1] Tiga kegelapan dimaksud adalah alam kandungan. Dimana janin terbungkus dalam ari-ari yang berada dalam rahim dan di dalam perut -pent.
[2] Bentuk azab dengan penguluran atau pembiaran dalam kelalaian dan kemaksiatan sehingga terlena dan binasa dalam kesesatan –pent.
[3]  Putra Ali, cucu Rasulullah yang juga turut hadir –pent.
[4] (QS.az-Zumar:47)
[5] (QS.as-Saba’: 54)
[6] (QS.az-Zumar:56)

(sumber: http://www.radioassunnah.com/)
Read more →